STRATEGI PEMBELAJARAN MATEMATIKA
Oleh : Fahruddin Kurnia, S.Pd.
Di Era Teknologi Informasi dan Komunikasi, guru masih punya peranan
yang sangat penting di bidang pendidikan, terutama di tingkat pendidikan Dasar
dan Menengah. Guru dituntut untuk bisa menciptakan situasi siswa mau belajar.
Dengan Motivasi, arahan, dan bimbingan guru, siswa yang sebelumnya malas
belajar dapat berubah menjadi siswa yang aktif dalam belajar. Beberapa hal yang
perlu dikuasai seorang guru ialah sebagai berikut.
A. PROSES PEMBELAJARAN
Proses belajar adalah interaksi atau hubungan timbal balik antara siswa
dengan guru dan antara sesama siswa dalam proses pembelajaran. Pengertian
interaksi mengandung unsur saling memberi dan menerima. Dalam interaksi
belajar mengajar ditandai sejumlah unsur:
a. Tujuan yang hendak dicapai
b. Siswa, guru dan sumber belajar lainnya
c. Bahan pelajaran
d. Metode yang digunakan untuk menciptakan situasi belajar mengajar.
Hakekat belajar adalah suatu proses perubahan sikap, tingkah laku, dan nilai
setelah terjadinya interaksi dengan sumber belajar. Sumber belajar ini selain guru
dapat berupa buku, lingkungan, Teknologi Informasi dan Komunikasi atau sesama
pembelajar (sesama siswa). Sedangkan istilah mengajar dalam pengertian di atas
adalah kegiatan dalam menciptakan situasi yang mampu merangsang siswa untuk
belajar. Dengan demikian mengajar tidak harus merupakan proses tranformasi
pengetahuan dari guru kepada siswa. Proses itu merupakan proses pembelajaran.
Tugas guru adalah menciptakan situasi siswa belajar. Berbagai pandangan
tentang bagaimana belajar harus terjadi telah dilontarkan para ahli.
Menyangkut belajar aktif Piaget tidak menunjuk hanya pada aksi luar yang
ditunjukkan siswa. Ia mencontohkan yang digunakan oleh Socrates yaitu dengan
metode Socratik (utamanya tanya jawab) untuk mengkondisikan siswa dalam
1situasi aktif mengkonstruksi sendiri pengetahuannya. Tugas guru adalah
mengungkap apa yang telah dimiliki siswa dan dengan penalarannya dapat
bertanya secara tepat pada saat yang tepat pula sehingga siswa mampu
membangun pengetahuannya melalui penalaran berdasar pengetahuan awal yang
dimiliki siswa tersebut. Bahkan jawaban benar bukan tujuan utama. Yang utama
ialah bagaimana siswa dapat memperkuat penalaran dan meyakini kebenaran
proses berpikirnya yang tentunya akan membawa ke jawaban yang benar. Hal ini
selaras dengan : “penilaian yang berprinsip menyeluruh”, yaitu penilaian yang
mencakup proses dan hasil belajar, yang secara bertahap menggambarkan
perubahan tingkah laku.
Menurut As’ari (2000) perilaku pembelajaran matematika yang diharapkan
seharusnya adalah sebagai berikut:
1. Pemberian informasi, perintah dan pertanyaan oleh guru mestinya hanya
sekitar 10 sampai dengan 30 %, selebihnya sebaiknya berasal dari siswa.
2. Siswa mencari informasi, mencari dan memilih serta menggunakan sumber
informasi.
3. Siswa mengambil inisiatif lebih banyak.
4. Siswa mengajukan pertanyaan.
5. Siswa berpartisipasi dalam proses perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi
pembelajaran.
6. Ada penilaian diri dan ada penilaian sejawat.
Dengan demikian pembelajaran matematika yang bermutu akan terjadi jika proses
belajar yang dialami siswa dan proses mengajar yang dialami oleh guru adalah
efektif.
Dalam penilaian, efektifitas proses belajar mengajar haruslah ditinjau
keefektifan komponen yang berpengaruh dalam PBM. Misalnya siswanya
termotivasi untuk belajar, materinya menarik, tujuannya jelas, dan hasilnya dapat
dirasakan manfaatnya. Untuk memperoleh hasil belajar matematika yang optimal
perlu didukung oleh kerangka umum kegiatan belajar yang mendukung
berlangsungnya proses belajar, yang dikenal sebagai struktur pengajaran
matematika. Struktur pengajaran ini memuat (1) Pendahuluan, (2) Pengembangan,
2(3) Penerapan dan, (4) Penutup. Kesiapan siswa dalam belajar disiapkan guru
selama tahap pendahuluan, baik dengan memberikan motivasi, maupun revisi atas
kemungkinan bahan yang telah mereka pelajari namun ada miskonsepsi sebagai
apersepsi bagi konsep atau prinsip baru yang akan dipelajari dalam tahap kedua.
Tahap pengembangan merupakan tahap utama dalam hal siswa belajar materi
baru. Sesuai prinsip belajar aktif, maka tahap ini perlu dikembangkan melalui
optimalisasi proses pembelajaran, misalnya dengan teknik bertanya, penggunaan
lembar kerja, diskusi, dan sebagainya. Tahap ketiga, penerapan hal-hal yang
dipelajari pada tahap kedua, tahap pelatihan serta penggunaan dan
pengembangan penalaran lebih lanjut. Tahap terakhir dapat berisi pemantapan:
merangkum berbagai hal yang telah dipelajari pada tatap muka yang baru
berlangsung dan penugasan. Pada kegiatan merangkum pun untuk lebih
membelajarkan siswa, guru dapat mengembangkan teknik bertanya.
B. PENYAJIAN MATERI PELAJARAN
1. Pembelajaran Secara Klasikal
Pembelajaran klasikal cenderung digunakan oleh guru apabila dalam proses
belajarnya lebih banyak bentuk penyajian materi dari guru. Penyajian lebih
menekankan untuk menjelaskan sesuatu materi yang belum diketahui atau
dipahami oleh siswa. Alternatif metodenya cenderung dengan metode ceramah
dan tanya jawab bervariasi atau metode lain yang memungkinkan sesuai dengan
karakteristik materi pelajaran.
Metode tanya jawab dan metode ceramah dalam pembelajaran klasikal sulit
dipisahkan. Melalui metode tanya jawab memungkinkan adanya aktifitas proses
mental siswa untuk melihat adanya keterhubungan yang terdapat dalam materi
pelajaran.
Pembelajaran klasikal akan memberikan kemudahan bagi guru dalam
mengorganisasi materi pelajaran, karena dalam pembelajaran klasikal secara
umum materi pelajarannya akan seragam diserap oleh siswa. baik urutan maupun
ruang lingkupnya.
3Pembelajaran klasikal dapat digunakan apabila materi pelajaran lebih
bersifat informatif atau fakta. Terutama ditujukan untuk memberikan informasi atau
sebagai pengantar dalam proses belajar mengajar. Sehingga dalam proses
belajarnya, siswa lebih banyak memdengarkan atau bertanya tentang materi
pelajaran tersebut. Secara proses pembelajaran klasikal dapat membentuk
kemampuan siswa dalam menyimak (mendengarkan) dan membentuk
kemampuan dalam bertanya.
Motivasi dan membangkitkan perhatian siswa sangat penting dalam
pembelajaran klasikal. Karena pembelajaran klasikal ini akan berhasil apabila ada
keterkaitan antara stimulus dan respon dalam proses belajar mengajar. Tanya
jawab memungkinkan adanya interaksi dan komunikasi edukatif. Yang harus
diperhatikan dalam melaksanakan proses belajar mengajar dengan tanya jawab
diantaranya siswa terlebih dahulu harus sudah mengetahui informasi dasar melalui
membaca atau mendengarkan tentang materi yang akan di bahas. Dalam proses
tanya jawab guru harus dapat mengarahkan jawaban yang kurang tepat menjadi
jawaban yang benar. Cara dan sikap yang baik dari guru akan membangkitkan
motivasi dan percaya diri siswa dalam bertanya maupun menjawab.
2. Pembelajaran Secara Kelompok
Pembelajaran secara kelompok merupakan pembelajaran yang dalam
proses belajarnya siswa dikelompokkan pada beberapa kelompok sesuai dengan
kebutuhan dan tujuan belajar. Belajar kelompok terutama ditujukan untuk
mengembangkan konsep pokok / sub pokok bahasan yang sekaligus
mengembangkan aktifitas sosial siswa, sikap dan nilai.
Pembelajaran kelompok cenderung banyak digunakan dalam pembelajaran
dengan pendekatan cara belajar siswa aktif (CBSA). Misalnya dengan kegiatan
diskusi, penelitian sederhana (observasi), pemecahan masalah serta metode lain
yang memungkinkan sesuai dengan tujuan dan karakteristik materi dalam belajar
secara kelompok.
Kesempatan siswa untuk membina rasa tanggung jawab, rasa toleransi,
peluangnya lebih besar akan dapat dikembangkan melalui kegiatan belajar
kelompok. Dengan belajar kelompok lebih jauh siswa akan memahami aspek
4materi pelajaran yang bersifat problematis berdasarkan pokok bahasan maupun
berdasarkan aspek sosial nyata. Secara langsung siswa akan belajar memberikan
alternatif pemecahannya melalui kesepakatan kelompok.
Dalam pembelajaran kelompok perlu diperhatikan tentang alokasi waktu
dengan ketercapaian tujuan pembelajaran. Seringkali pembelajaran kelompok
menggunakan waktu yang melebihi dari waktu yang di alokasikan. Untuk itu
kegiatan bimbingan dari guru sangat diperlukan.
3. Pembelajaran Secara Perorangan
Pembelajaran perorangan dapat membantu proses belajar mengajar yang
mengarah pada optimalisasi kemampuan siswa secara individu. Untuk
melaksanakan kegiatan belajar tersebut, diantaranya guru perlu memiliki
kemampuan yang berkenaan dengan:
◊ mengkaji hasil prestasi belajar siswa
◊ merencanakan, melaksanakan, serta menilai program perbaikan dan
pengayaan hasil belajar siswa
◊ melaksanakan kegiatan belajar dalam latihan secara perorangan.
Kemampuan tersebut dalam pelaksanaannya perlu dilandasi dengan perhatian,
bimbingan, dan motivasi dari guru.
Kegiatan belajar perseorangan ditujukan untuk menampung kegiatan
pengayaan dan perbaikan. Program pengayaan perlu diberikan kepada siswa yang
memiliki prestasi atau kemampuan yang melebihi dari teman sekelasnya. Program
pengayaan dapat dilaksanakan oleh setiap sekolah yang programnya disesuaikan
dengan kondisi siswa dan kondisi sekolah yang bersangkutan.
Sedangkan kegiatan perbaikan (remidial) dilaksanakan untuk membantu
siswa yang kurang berhasil atau yang prestasinya dibawah rata-rata teman
sekelasnya. Juga program perbaikan disediakan untuk siswa yang ketinggalan
pelajarannya karena tidak masuk (tidak hadir) pada saat proses belajar mengajar
tersebut berlangsung. Jadi pembelajaran perseorangan pada dasarnya dilandasi
oleh prinsip-prinsip belajar tuntas.
Contoh pembelajaran perorangan diantaranya adalah dengan
menggunakan paket pengajaran Modul, baik dalam bentuk cetakan maupun CD
5interaktif. Dengan Modul ini siswa belajar secara perorangan, sehingga
memungkinkan sekali siswa dapat maju sesuai dengan kecepatan masing-masing,
tidak harus menunggu atau mengejar-ngejar siswa lain seperti halnya pada
pembelajaran klasikal.
C. PROSEDUR KEGIATAN PEMBELAJARAN
Tahapan-tahapan Kegiatan Pembelajaran
Pertama:
1.Menciptakan kondisi awal pembelajaran
2.Melaksanakan apersepsi atau penilaian kemampuan awal siswa, misalnya setiap
siswa diminta mengerjakan soal yang dibuat oleh guru tentang materi sebelumnya
dalam waktu lima menit. Selanjutnya dengan bimbingan guru, hasil pekerjaan
siswa ditukar dengan temannya untuk dikoreksi dan di nilai. Kemudian baik secara
acak atau secara keseluruhan berdasarkan urut daftar nama siswa, guru meminta
siswa untuk menyebutkan hasil penyekorannya. Jika dari skor-skor yang
disebutkan siswa memenuhi ketuntasan belajar maka prosedur pembelajaran
dilanjutkan pada tahapan berikutnya, tetapi jika skor-skor yang disebutkan siswa
tidak memenuhi ketuntasan belajar maka perlu diadakan perbaikan secara
klasikal.
Kedua:
1.Guru menyampaikan tujuan / topik pembelajaran pada siswa
2.Guru menyajikan bahan pelajaran dengan ceramah dan tanya jawab bervariasi
tentang konsep pokok/ sub pokok materi yang akan dipelajari.
Ketiga:
1.Guru mengelompokkan siswa dan memberikan penjelasan pada siswa tentang
tahapan belajar / diskusi.
2.Siswa merumuskan, mengidentifikasi, menganalisis masalah serta melakukan
diskusi dalam kelompoknya untuk mendapatkan pemecahan masalah.
3.Hasil diskusi pada kelompok kecil dipresentasikan pada seluruh kelompok dan
didiskusikannya dalam kelas dengan bimbingan langsung dari guru.
4.Menyimpulkan hasil diskusi berdasarkan rumusan masalah
Keempat: Pemantapan dan pemberian tugas secara perorangan baik melalui
modul atau yang lainnya.
DAFTAR PUSTAKA
As’ari, A.R., 2000, Peningkatan Mutu Pendidikan Matematika Makalah
disajikan pada Seminar Nasional Peningkatan Kualitas Pendidikan
Matematika pada Pendidikan Dasar, Malang: UM Malang.
Krismanto, Al, 2000, Penilaian Bahan Penataran Guru SLTP, Yogyakarta:
PPPG Matematika Yogyakarta.
Winataputra, H. Udin S., 1997, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Universitas
Terbuka
sumber http://members.lycos.co.uk/linkmatematika/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar